Room 1808 ataukah Garuda 1945

Baru tertuang…. Dan bimbang dengan pertanyaan ???
Sungguh takjub aku dengar liat dan rasakan tentang kebidaban Manusia
Apakah ini peradabaan di Nusantara tercinta ini ?
Ataukah ini symbol kemurkaan TUHAN ?
Tak tahu kita tak bias menjawab hanya usap dan mengelus dada

Benar memang manusia mempuyai ambisi yang tinggi
Betul sekali kali kita bicara agama itu tentang hal-hal yang sacral
Tentang hal-hal yang dianggap keyakinan tetapi dimana letak keagamaan….?
Yang aku tahu agama mengajarkan kebaikan dan memang kata ulama, kata sang manusia suci, kata alkitab bahakan kata Nabi terdahulu AGAMA yang tertua itu Cuma KEBAIKAN .. tapi mengapa tak sadar semua agama memang isinya tentang kebaikan…
Namun kemana perginya kebaikan itu…?

Tragis plus miris memandang peradapan diri manusia saat ini …
Terkadang tak terpikirkan untuk menjadi diri sendiri, untuk menjadi manusia yang beradab dan merasakan menjadi manusia yang baik… tapi ini lah sirkulasi kehidupan dan perbedaan manusia dengan yang di ciptakan TUHAN lainnya..

Aku dihadapkan sebuah dilema antara mengikuti kehendak manusia dan kehendak leluhur. Sebagai pribadi harus tegas, seperti kehendak leluhur. Badai dahsyat menerpa aku karena peristiwa ini. Kemudian, aku secara pribadi tidak mau mengakui keberadaan jiwa yang kembar. Jadilah badai lebih dahsyat lagi. Aku pikir lebih baik aku “ setya lan mituhu “ pada leluhur ketimbang pada kedua beliau kakak ipar itu. Aku sadar dampaknya aku akan diberi predikat “ Mantu Mbalelo “. Sebab kedua beliau itu sudah bukan “ Sinuwun “,. Ah.., itu wajar-wajar sajalah. Nah, mungkin cukup itu saja penjelasan jujurku .
Aku mendengarkan penjelasan Jiwa batinku dengan seksama. Beliau menyatakan bahwa membangun negara itu harus dimulai dari diri sendiri, atau lebih dikenal sebagai natanagoro. Negara yang paling kecil adalah diri kita sendiri. Pribadi kita terdiri dari sedulur keblat papat. Nah, anggota negara dalam pribadi ini hendaknya ditata dalam sebuah keseimbangan dan jatidiri kepribadian yang tegar berdiri di tengah samodra kehidupan.
Tidak akan runtuh dan tenggelam di tengah dahsyatnya badai samodra. Ini yang disebut sebagai “ NATA NAGORO “. Jika seorang manusia ‘ jawa ‘ ( artinya manusia yang paham akan hakekat manusia ) , maka harus mampu menata kepribadiannya dengan mengenal sangat dekat serta bijak dengan anggota kepribadian itu. Jadi seorang manusia bisa disebut “ Jawa “, apabila mampu menata, mengenal dan bijak kepada anggota dalam pribadinya. So, belum tentu suku jawa itu jawa ya…!. Belum tentu priyayi itu jawa, ya..?. Ternyata tidak mudah menjadi jawa untuk ‘ membangun negara ‘ jika melihat dari kacamata jiwaku. Nah, bagaimana setelah membangun negara yang paling kecil atau kepribadian ini.
Menuturkan dengan bahasa jawa tinggi, aku coba translate ke bahasa Indonesia yang sederhana. Bahwa jika kita telah membangun kepribadian seperti diatas, maka selanjutnya kita membangun negara yang di sebut “ keluarga “. Membangun keluarga itu, jangan melihat secara fisik saja. Sebab manusia itu sebelum nyata dalam kehidupan berasal dari non fisik atau orang menyebut sebagai roh. Dalam membangun negara kecil keluarga, hendaknya “ Hati “ yang menjadi tiang atau sakagurunya. Jangan membangun negara kecil keluarga itu dilihat dari fisik dan materi. Aku jadi ingat teori dan pidato Bung Karno tentang seorang petani bernama ‘ Marhaen ‘. Fisik dan materi bisa diperjuangkan dan dibangun oleh suami-istri atau sebagai bapak-ibu yang telah menjadi satu jiwa, satu arah, satu pemikiran, satu tujuan. Pantes disebut “ Garwa “ dalam bahasa jawa , yang berasal dari singkatan “ Sigaraning nyawa “ ( belahan jiwa ). Jika itu telah terwujud dalam kehidupan yang menyatu, dengan hati pula menciptakan anak turun sebagai anggota dalam negara keluarga. Yang harus dididik, ditempa dan digembleng menjadi manusia jawa yang paham akan natanagoro.
Bagaimana bisa membangun negara keluarga, jika bapak dan ibu tidak satu jiwa, tidak satu arah, tidak satu tujuan, tidak satu rasa dan tidak menjadi ‘ satu tiang ‘ ( gegaran ) ?. Aku jadi ingat dengan lantunan swara almarhun Broery dalam lagu ‘ Aku begini, engkau begitu ‘. Kewajiban seorang bapak mendidik, mengarahkan dan menempa anak-anak memahami hakekat manusia, sehingga membangun karakter dan mental keluarga yang bisa dilihat secara fisik. Sedang peran seorang ibu, memberi semangat kepada bapak dan anak untuk di tempa bapaknya menjadi manusia seutuhnya. Disini aku ingat sebuah relief besar di candi ‘ Sukuh ‘ di pintu selatan. Seorang kesatria menempa senjata keris, seorang wanita priyayi menjadi pengubub. Ketika itu bisa dilakukan dalam sebuah negara kecil keluarga, maka alam akan datang sebagai ‘ keberuntungan ‘ dalam membangun ‘ materi ‘. Dalam bahasa swargo dinyatakan sebagai “ cekap tirah hing kabegjan “. Keluarga itu seperti tubuh kita sendiri yang terdiri dari kepala, badan, dua tangan dan dua kaki. Ini yang disebut sebagai manusia normal. Dikatakan tidak normal apabila berkepala dua. Aku mencoba usil pada beliau dalam dialog santai ini. Bagaimana dengan cucu swargo yang jadi istri dan ibu dari ketiga anakku ?. Beliau menjawab dengan senyum “ hiku jawa kang lupa jawane ( itu jawa yang hilang jawanya ), maka aku berharap kepadamu sebagai bapak mendidik ketiga anakmu yang juga cucuku itu jangan sampai hilang jawanya “. Kemudian beliau menyatakan bahwa biarkan ibu anak-anakku belajar dari anak-anaknya. Ini ada benarnya, jika kita melihat fakta di masyarakat banyak anak-anak muda lebih matang dari orang-orang tua. Lihat saja para legislatip yang berada di gedung DPR RI, kadang main keroyok dan baku hantam , naik diatas meja, bahkan keroyokannya dalam bentuk lain. Bentuk lainnya adalah “ voting “. Lihat di masyarakat luas dan perpolitikan negara ini, siapa yang banyak pendukung itu yang benar. Bukan lagi nilai-nilai pemikiran yang baik dan benar demi masa depan. Bukan lagi sakaguru yang kokoh dalam wujud perundang-undangan, dan masih banyak wujud lainnya.
Sebesar apapun badai yang diciptakan manusia, dirimu mampu mengendalikan. Segala perabot dan rahasia alam bumi Nusantara telah ada di tanganmu. Kembalikan pada fungsi dan hakekatnya, jaga kekayaan itu untuk kesejahteraan manusia di bumi nusantara. Dan jangan pernah lupa membangun tempat bagi leluhur – leluhur di lawu, agar manusia jawa yang sadar, eling dan mawas dapat merasakan kesejukan, ketentraman dan kenyamanan leluhurnya. Terbanglah dirimu dengan ketajaman mata batinmu, menjaga dan melestarikan bumi nusantara ini “. Segera aku mengambil sikap sembah dan menjawab : “ sendika dawuh “….

Iklan

4 Komentar

  1. Sendika dawuh … Memulai dari menjadikan diri yang baik, lalu keluarga yang baik, kemudian masyarakat yang baik, lantas negara yang baik merupakan proses yang ditempuh leluhur kita, para Nabi Allah. Butuh kesabaran memang, karena ini proses yang panjang. Kadang, yang mau berproses hanya sgelintir orang, walaupun proses itu sudah dilakukan ratusan tahun (ingat Nabi Nuh, 990 tahun hanya diikuti oleh 99 orang!). “Bahkan kelak ada Nabi yang dibangkitkan tanpa seorang pengikutpun,” begitu salah satu tutur Nabi. Siap menyabarinya …

  2. seorang pemimpin yang baik itu seperti supir angkot, Ia tidak boleh bertanya kepada para penumpang apakah mereka puas dengan layanan supir itu. Tetapi yang harus dilakukannya adalah tetap melihat lurus kedepan dan mengantarkan penumpang sampai tujuan dengan selamat.

  3. wah panjang juga bahasannya sob, ga kalah seru yang komen juga bagus2, saya jd kehabisan ide buat kasih komen… hehe… gapapa ya sob yang penting saya sdh meninggalkan jejak disini, good post! 😀

  4. Absen tgl 25-7-09 KDG sambil baca-baca dan Isi Komentar
    Kalo menurut sy.. di Indonesia tu banyak bakat-bakat emas di bidang BOM.. cuma karena gak di kasi kesempatan aja mereka buat membuktiin diri mereka dan Pemerintahpun seolah BUTA dgn kemampuan rakyatnya sendiri.. sehingga rakyat protes dg cr yg salah.. akhirnya seluruh Indonesia rugi.. coba aja Mereka di ajak bergabung dan di sediaka fasilitas buat mengembangkan Bakat dan minat mereka.. pasti Indonesia bakal PY pabrik Bom Super besar se Dunia, mengingat jumlah pddk yg Jutaan ini.. apa gak banyak tu bakat-bakat Emas yg belum ter salur.. coba liat Aceh, ambon, maluku, jakarta, papua.. semua mereka bisa buat BOM.. coba ajak anak-anak bangsa yg py bakat ini bergabung..! pasti Indonesia bakal Lebih Hebat dari KOREA UTARA bahkan AMERIKA


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




  • Powered by  MyPagerank.Net
    hit counter
  • Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Allah melimpahi kita dengan Rahmat, Hidayah dan Anugerah yang tak terhingga tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya Personal (Thoughts) - TOP.ORG Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory Top Global Site 100 Blog Indonesia Terbaik Blog Directory by Blog Flux Personal Blogs Personal Blogs - Blog Rankings
    Add to Technorati Favorites
  • RSS Info Property

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.